Tampilkan postingan dengan label cerita mereka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita mereka. Tampilkan semua postingan
TEKOBINANGA

TEKOBINANGA

Penulis MUHARDIN HAJIMUGO

TEKOBINANGA
Sebuah Perkampungan Kecil Yang Berada Di Bagian Timur Kab Bantaeng,Tepatx Di Dusun Makkaninong,Desa Biangkeke,Kec Pajukukang,Yah...TEKOBINANGA Namax Unik,Kecil,Dan Nyaris Hilang Dari Peta,yg Luas tanahx Tdk Lebih Dari Setengah Hektar,dgan Jumlah Rumah yang hanya Sekitar 15 Rmh, Yah..Kecil Mungil Unik,Namun Melahirkan Tokoh Besar Dan Berpengaruh Di samanx,Siapa Yang Tdk Kenal H.ABD GANI Atau HAJI MUGO,Sebagai tokoh Agama Dan Sekaligus Imam Desa Biangkeke,TEKOBINANGA jg Melahirkan Sosok Nasionalis H.HAMZAH RAUF yang menjadi pegawai Kanwil Depsos Mks,dan Anggota DPRD KAB Bantaeng Dua Periode,Yah TAKOBINANGA,kmi tdk punya Rmh sakit tpi kami Melahirkan sosok DG KAMI yang menjadi Dokter Kami Dikala Rmh skit sdh Tdk Mampu Mengobati Secara Medis,TEKOBINGA juga Melahirkan Sosok DG Maring Di Bidang Pertukangan,TEKOBINANGA jga Melahirkan Sosok MUHLIS,Dg MULLI di Bidang Jual Beli Ternak yah Itulah TEKOBINANGA,yg Tdk henti2x Melahirkan Tokoh,Siapa yang tdk Kenal Hikmawati Edy di Depsos Btg mereka Titisan Darah TEKOBINANGA,Kami jg Menitipkan Sosok Pengusaha Abd Khalil Ikhsan Di Kota Makasar,jg Seorang Konsultan Munatsir Abu Rinjani jg Titisan TEKOBINANGA,Jumriani Jum ,Ani Jamal ,Edy Atma ,Bang Dzafran ,Rachmat Hidayat Alrazidin ,Racmat Qadri ,Mereka Titisan TEKOBINANGA, Darah,Daging,tulang-belulang Mereka adalah TEKOBINANGA,jangan Pernah Takut Sodara Dengan Kerasx Dunia,jangan Pernah Gentar Dngan Gelombang dan Badai Kehidupan,Banggalah Menjadi Bagian Dari Sejarah TEKOBINANGA,KITA adalah BATANG KAYU CINA,yg tdk Mudah Menyerah apalagi Mati jikalau di Pangkas.kita mampu Bertahan Dngan Panasx Dunia,Yah Kalian Putra-Putri TEKOBINANG... memang Kita Dari Perkampungan Kecil Dan Sedikit Kumuh,Namun Persiapka diri Kalian Menjadi Tokoh Yang Besar,Berpengaruh,Hebat,Karna Kalian Sudah Berada Dalam Lingkaran Darah TEKOBINANGA DAN H.ABD GANI.Namun Tidak Melupakan Bahwa Kita Dri Yang Kecil,Kecil,Kecil..Di Mata Sang Pencipta.Sang Pemilik Alam Semesta...TEKOBINANGA.
cerita mereka

cerita mereka


penulis denny

TEROMPET BERBUNGKUS ALQURAN
Ketika kertas berisi ayat suci menjadi bungkus terompet tahun baru.
Engkau berteriak, "Itu penghinaan !" Seakan-akan engkau pembela Tuhan sejati.
Engkau yang terjebak pada simbol, meraung ketika simbol itu ditempatkan pada tempat yang tidak layak. Tetapi tahukah kau tempat apa yang paling tidak layak untuk sebuah ayat suci ?
Yaitu, hati yang kotor.
Engkau adalah pembaca ayat dengan lantunan suara yang indah. Engkau mensucikan diri sebelum membaca kitab suci. Bahkan engkau menaruhnya di kepala sebagai tanda penghormatan terhadap firman.
Tetapi bahkan sedikitpun pesan di dalamnya tidak pernah engkau pahami. Dengan ayat itu engkau mencaci maki. Ayat itu kau gunakan untuk menzolimi. Ayat yang kau lantunkan itu sama sekali tidak membuatmu menjadi pengasih.
Engkau sombong dengan kemampuanmu, pamer dengan kebisaanmu dan yang gilanya lagi, engkau melacurkan diri dengan menjual ayat-ayat itu.
Sedangkan kertas yang berisi ayat suci dan menjadi bungkus terumpet tahun baru itu lebih mulya daripadamu. Kertas itu menghasilkan pendapatan bagi para pedagang terumpet, memberi makan keluarganya dan kau tahu kemewahan yang datang kepada mereka bahkan hanya setahun sekali.
Karena teriakanmu yg sombong dan menyakitkan, jualan mereka disita polisi. Mereka menangis, karena itu barang dagangan yg mereka beli. Mereka berharap rejeki. Tahukah kau, bagaimana ia pulang dan menghadap tatapan anak istrinya nanti ?
Engkau berkata itu penghinaan terhadap agama ? Apakah agamamu menyembah kertas sehingga engkau merasa terhina ?
Yang suci dari sebuah kitab adalah perkataan-Nya, yang terbungkus dalam surat dan ayat2, bukan kertasnya. Kertas itu kertas biasa, yang tidak berpengaruh apa2 pada kesucian perkataan-Nya. Kertas itu hanya media, tinta untuk menulisnya hanyalah alat saja.
Tahukah kau apa penghinaan itu ?
Penghinaan itu adalah ketika engkau mengagumi kebesaran Tuhan pada lafaz di badan seekor ikan, pada awan yang membentuk kalimat Tuhan, pada tumbuhan yang bertaut seperti nama Tuhan. Kekagumanmu pada itu adalah penghinaan.
Bagaimana Tuhan yang begitu Maha, kau kecilkan dengan lafaz-lafaz yang tertera itu ? Ikan itu sendiri adalah kebesaran-Nya, awan itu sendiri adalah keberadaan-Nya dan tumbuhan itu sendiri adalah kemulyaan-Nya.
Tuhan tidak perlu menghinakan diri dengan menulis nama-Nya dibenda ciptaan-Nya. Karena Tuhan tidak butuh simbol supaya kau bisa menyembahnya. Tuhan tidak butuh kau mengagungkan-Nya. Kaulah yang butuh kepada-Nya.
Ketika kau mengatakan bahwa kau beragama dan ternyata kau malah menjadi sombong, maka mulailah berkaca, benarkah agamaku ? Atau aku yang salah menafsirkan petunjuk-Nya ?
Tunggu saja para pedagang itu mengadu. "Tuhan, mereka merampas rejekiku hanya karena firman-Mu ada di barang daganganku.." Tuhan memberi mereka rejeki dengan menggunakan nama-Nya, tapi engkau merampoknya. Engkau yang selalu merasa sok suci, bahkan lebih hina dari babi. Babi hanya berkubang di air lumpur, engkau memakan lumpurnya.
Dan semua atas nama Tuhan. Tuhanmu adalah kertas. Engkau merasa terhina, padahal engkaulah sejatinya penghina.
Sini minum kopi, biar kutampar semua kepicikan beragama yang ada dalam benakmu selama ini..
cerita mereka

cerita mereka

penulis zaenal masri



Langkahnya terhenti di tepian senja
Imannya guyar di terpa ombak
Tepian telaga air mata mengalir derasnya
Merambat ke pori pori térasa hebatnya
Tetesan hujan dari selah hati
Mengintai dari waktu yang tak dapat di tentukan
Kemarin dia masih berkilah
Sekarang tak dapat berkata
Jalan datar hampiri mereka
Hiasan dari seribu pohon cemara seakan terlupa
Tiang tiang hati mulai goyah
Yah....hitam putih hidup di antara mereka

Kita berbeda.
Zaenal masri 13 desember 2015
Makassar
cerita mereka

cerita mereka

penulis zaenal masri


Hiasan bunga merah
Masih diam, nampak tak berkilah
Kami pemuja malu tak menyapa
Dalam malam.
Hiasannya masih merona
Tak terbaca oleh gambaran
Sepatah nada lirihpun tak kau layangkan
Dasar kami pemuja malu
Pura pura diam dalam harap
Menanti ikatan
sore kemarin disimpulnya.

ZAENAL MASRI
MAKASSAR, 21 DESEMBER 2015
JL.JIPANG RAYA
KARAENG BONTO TANGNGA 2
PONDOK SUSU
cerita mereka

cerita mereka

penulis  zaenal masri


MUKA KAKU
Tak ada bilangan tak ada suara
Nafasnya kaku terbawah lemah
Langkahnya datar tanpa arah
Riwayatnya mulai pucat
Dari pagi hingga sore
Tak ada nampan tak ada gelas
Yang ada hanyalah nafas.
Nafas tersenggal ,
yang mulai sobek
Menahan hantaman badai pagi.
Muka muka kusam semakin kaku
Huhhh.....
Meman betul tak ada bilangan tak ada suara.

ZAENAL MASRI
22 Desember 2015
Jl. Jipang raya / karaeng bonto tangnga dua
Pondok susu
cerita mereka

cerita mereka

peulis muhammad agus t


Tangis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serupa dengan tertawanya, tidak berlebihan. Kala menangis, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tersedu-sedu dan tidak berteriak-teriak, namun air matanya berlinang, desis napasnya terdengar.. Kala tertawa, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terbahak-bahak.
Terkadang tangisan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan ungkapan kasih sayangnya terhadap orang yang meninggal, ungkapan kekhawatiran dan belas kasih terhadap umatnya, wujud rasa takutnya kepada Allah, atau (perasaannya) ketika mendengar Al-Quran. Itulah tangisan yang timbul dari rasa rindu, cinta, serta pengagungan yang bercampur rasa takut kepada Allah. (Zadul Ma’ad, 1:183)
Abdullah bin Mas’ud menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bacakan (Al-Quran) untukku.’ Lalu kukatakan, ‘Wahai Rasulullah, kubacakan untukmu padahal Al-Quran turun kepadamu?’ Beliau berkata, ‘Ya, sesungguhnya aku ingin mendengarkannya dari orang lain.’
Lalu kubaca surat An-Nisa hingga sampai ayat,
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَـؤُلاء شَهِيداً
‘Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap umat dan Kami datangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka (sebagai umatmu).’ (QS. An-Nisa: 41)
Beliau lantas berkata, ‘Ya, cukup.’ Tiba-tiba, air mata beliau menetes.”
Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menangis ketika menyaksikan salah seorang cucunya di ujung ajal. Juga ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan putranya, Ibrahim, meninggal. Air mata beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menetes karena belas kasih beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kepada keduanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga menangis ketika Utsman bin Madh’un wafat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menangis ketika terjadi gerhana matahari, lantas beliau melaksanakan shalat gerhana dan beliau menangis dalam shalatnya. Kadang pula, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menangis saat menunaikan shalat malam.
Terdapat suatu riwayat bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Beberapa surat telah membuatku beruban, seperti surat Hud, Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, Amma Yatasa’alun, dan surat Idzasy Syamsu Kuwwirat.” (Shahihul Jami, no. 3723)
Bacaan Al-Quran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bisa “membelah” hati seseorang, sebagaimana tertera dalam Ash-Shahihain, berupa riwayat dari Jubair bin Muth’im; ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat maghrib. Tidaklah kudengar suara yang lebih bagus dibandingkan suara beliau.”
Dalam riwayat lain disebutkan, “Maka tatkala aku mendengar beliau membaca,
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
‘Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?’ (QS. Ath-Thur: 35) Hampir saja jantungku terbang.’” (wanitasalihah)