TEROMPET BERBUNGKUS ALQURAN
Ketika kertas berisi ayat suci menjadi bungkus terompet tahun baru.
Engkau berteriak, "Itu penghinaan !" Seakan-akan engkau pembela Tuhan sejati.
Engkau yang terjebak pada simbol, meraung ketika simbol itu ditempatkan
pada tempat yang tidak layak. Tetapi tahukah kau tempat apa yang paling
tidak layak untuk sebuah ayat suci ?
Yaitu, hati yang kotor.
Engkau adalah pembaca ayat dengan lantunan suara yang indah. Engkau
mensucikan diri sebelum membaca kitab suci. Bahkan engkau menaruhnya di
kepala sebagai tanda penghormatan terhadap firman.
Tetapi bahkan
sedikitpun pesan di dalamnya tidak pernah engkau pahami. Dengan ayat itu
engkau mencaci maki. Ayat itu kau gunakan untuk menzolimi. Ayat yang
kau lantunkan itu sama sekali tidak membuatmu menjadi pengasih.
Engkau sombong dengan kemampuanmu, pamer dengan kebisaanmu dan yang
gilanya lagi, engkau melacurkan diri dengan menjual ayat-ayat itu.
Sedangkan kertas yang berisi ayat suci dan menjadi bungkus terumpet
tahun baru itu lebih mulya daripadamu. Kertas itu menghasilkan
pendapatan bagi para pedagang terumpet, memberi makan keluarganya dan
kau tahu kemewahan yang datang kepada mereka bahkan hanya setahun
sekali.
Karena teriakanmu yg sombong dan menyakitkan, jualan
mereka disita polisi. Mereka menangis, karena itu barang dagangan yg
mereka beli. Mereka berharap rejeki. Tahukah kau, bagaimana ia pulang
dan menghadap tatapan anak istrinya nanti ?
Engkau berkata itu penghinaan terhadap agama ? Apakah agamamu menyembah kertas sehingga engkau merasa terhina ?
Yang suci dari sebuah kitab adalah perkataan-Nya, yang terbungkus dalam
surat dan ayat2, bukan kertasnya. Kertas itu kertas biasa, yang tidak
berpengaruh apa2 pada kesucian perkataan-Nya. Kertas itu hanya media,
tinta untuk menulisnya hanyalah alat saja.
Tahukah kau apa penghinaan itu ?
Penghinaan itu adalah ketika engkau mengagumi kebesaran Tuhan pada
lafaz di badan seekor ikan, pada awan yang membentuk kalimat Tuhan, pada
tumbuhan yang bertaut seperti nama Tuhan. Kekagumanmu pada itu adalah
penghinaan.
Bagaimana Tuhan yang begitu Maha, kau kecilkan
dengan lafaz-lafaz yang tertera itu ? Ikan itu sendiri adalah
kebesaran-Nya, awan itu sendiri adalah keberadaan-Nya dan tumbuhan itu
sendiri adalah kemulyaan-Nya.
Tuhan tidak perlu menghinakan diri
dengan menulis nama-Nya dibenda ciptaan-Nya. Karena Tuhan tidak butuh
simbol supaya kau bisa menyembahnya. Tuhan tidak butuh kau
mengagungkan-Nya. Kaulah yang butuh kepada-Nya.
Ketika kau
mengatakan bahwa kau beragama dan ternyata kau malah menjadi sombong,
maka mulailah berkaca, benarkah agamaku ? Atau aku yang salah
menafsirkan petunjuk-Nya ?
Tunggu saja para pedagang itu mengadu.
"Tuhan, mereka merampas rejekiku hanya karena firman-Mu ada di barang
daganganku.." Tuhan memberi mereka rejeki dengan menggunakan nama-Nya,
tapi engkau merampoknya. Engkau yang selalu merasa sok suci, bahkan
lebih hina dari babi. Babi hanya berkubang di air lumpur, engkau memakan
lumpurnya.
Dan semua atas nama Tuhan. Tuhanmu adalah kertas. Engkau merasa terhina, padahal engkaulah sejatinya penghina.
Sini minum kopi, biar kutampar semua kepicikan beragama yang ada dalam benakmu selama ini..