Hai Joe,
Apa kabar? Lama sekali tak berjumpa.
Entah
kenapa, jemariku bergerak menulis namamu di layar jejaring sosial.
Berdebar menunggu beberapa nama muncul, dan di sana... pada salah satu
nama, terpampang jelas fotomu. Membingkai wajah yang hingga saat ini
masih melekat erat di ingatan. Ya, kau masih ada di dalam sini, Joe.
Di
foto itu terpeta tatap matamu yang masih sama, bibir yang melengkungkan
seulas senyum tak berubah. Tidak salah lagi itu benar kau. Joe, yang
pernah mengukir pelangi di hatiku
Mengingatmu
seperti ini, tanpa diminta, kenangan itu berkelebat. Memori memaksaku
melihat film usang yang lama tersimpan di kotak terdalam. Sejenak
kunikmati saja potongan lembaran itu tertayang di benak. Ah...sudahlah,
berhentilah memberi gambar wahai kenangan. Biarkan aku menyampaikan
sesuatu yang selama ini tak pernah ia dengar, pemilik wajah pada foto
ini.
Tahukah Joe?
Setelah
ucapan selamat tinggal yang menurutmu demi kebaikan dan masa depanku.
Hampir setiap malam tidak bisa kupejamkan mata. Menyesali, mengapa kau
lakukan itu? Kau memenuhi hatiku dengan sangat, mengisi hariku dengan
indah. Dan kala kau cabut semua, aku hanya bisa terpana tak percaya.
Keputusanmu membunuh asaku, Joe. sangat...
Setelah
kau pergi, butuh waktu lama melenyapkanmu dari mimpiku. Butuh banyak
hari mengeyahkan bayangmu dari hidupku. Butuh segala doa tuk lupakanmu.
Butuh perjuangan penuh menepis semua yang pernah ada. Butuh kekuatan
menata hati kembali.
Karenamu Joe, ku tak lagi percaya rasa itu untuk waktu yang lama.
Masih membekas jelas kata-katamu, di senja terakhir yang kita nikmati bersama ;
"We can't stay on this way, you have to move forward, without me. It's hurt me, really. But I have to.
You're so young, you have a bright future to reach up. I'll be so happy, for your happiness"
Begitu
bunyi harapanmu untukku, Joe. Tapi buatku, itu sebuah penolakan. Bentuk
lain untuk menyingkirkanku dari hidupmu. Seketika kau hapus mimpi
merajut hari bersamamu.
Tak
lagi menjumpaimu dalam siang dan malamku, membuat semua harapan musnah,
sayapku patah. Aku goyah. Tanpamu, guardian angel yang selama ini
menjaga dan memberi kekuatan saat terpuruk. Bahkan ketika kuberada pada
titik terendah fase kehidupan, kau ada disana, mengulurkan tangan,
membantu menegakkan jiwa yang layu.
Tak
mudah Joe, melewati waktu setelah kau pergi. Aku benar-benar sendiri
dalam ketidakpastian hidup. Mereka-reka, arah apa yang akan kau
tunjukkan saat ku melintas aral. Dalam bimbang, yang teringat hanya kau,
Joe. Orang yang paling mengerti aku, yang mampu membaca isi kepala dan
hati ini. Kau mengenalku utuh, bahkan lebih dari aku mengenal diri
sendiri.
Setelah
sekian lama kepergianmu, aku tak ingat berapa hitungan hari yang
terlewati untuk mampu memahami semua, membuka mata hati seluasnya.
Hingga sampai pada ujung yang terlambat kusadari. Rasa ini berlabuh di
tempat yang salah.
Tidak mudah berdamai dengan hati, menerima kenyataan bahwa semua salah, sedari awal.
Harusnya
tak kubiarkan api cinta itu membara, mestinya tak ku beri celah untuk
kau masuki. Tapi apa daya, semua terjadi begitu saja tanpa bisa ku tahan
lajunya. Cinta ini nyaris menggerogoti nurani. Karena ia hadir, saat
kau sudah tak sendiri
Joe,
Sekarang aku mengerti mengapa kau harus pergi. Kau tak ingin mengikatku
dalam ketidakpastian, tak mau menghabiskan masaku dengan harapan kosong
yang kau punya. Karena cintalah kau melepasku, membiarkan aku terbang
lepas menyongsong hari depan, tanpamu...
14 tahun berlalu Joe.
Kembali
menatap fotomu. Ah... hatiku gundah, haruskah memberi sinyal
kehadiranku? Menyapamu, dan mungkin sedikit bernostalgia tentang masa
lalu?
Tidak...
Tidak
akan ku lakukan itu. Kenangan usang kita tidak boleh mengganggu
ketenanganmu hidupmu yang dulu pernah terusik dengan hadirku, meski tak
kusadari. Cukup memandangi senyum itu, terobati jua rindu padamu. Rindu
yang harus kusimpan dalam-dalam.
Terimakasih Joe,
Untuk warna pelangi yang pernah kau hadirkan.
/kita
tidak bisa terus seperti ini, kamu harus terus melangkah, tanpa aku.
Ini menyakitiku, sungguh. Tapi aku harus melakukannya. Kamu masih belia,
kamu punya masa depan yang cerah untuk diraih. Melihatmu bahagia,
adalah kebahagiaan terbesar buatku.