cerita mereka

Cerpen : Perempuan Gila di Depan Beranda
Jen tidak tahu sejak kapan perempuan itu bertingkah aneh-aneh. Perempuan muda di depan rumah. Bulan lalu mereka masih saling berbicara satu sama lain. Hana, perempuan muda beranak dua itu bercerita bagaimana mahalnya barang-barang yang baru ia beli dari pasar. Jen tak banyak menanggapi. Tentu semua orang tahu harga-harga sedang melambung nyaris menembus awan. Beruntung suami Jen seorang pegawai negeri dengan gaji cukup tinggi.
Sebetulnya waktu itu Hana mengajukan secara halus keinginan meminjam uang. Jen tahu itu. Tetapi ia sendiri sedang punya keinginan merenovasi rumah. Ada beberapa bagian yang bocor. Jika hujan tiba tentu itu akan menjadi masalah besar. Maka wanita itu hanya bisa menjawab dengan permohonan maaf karena belum bisa membantu.
“Nah anak-anak, sekarang sudah mau jam setengah tujuh pagi. Ibu harus bersiap-siap,” terdengar suara Hana. Bersiap-siap apa? Hana tidak bekerja di luar rumah. Dulu ia mengajar. Namun sudah lima tahun ini berhenti. Persis ketika ia akan mengandung anak pertamanya. Jen membuka sedikit gorden kamar. Terlihat Hana sudah memakai blazer dan rok panjang. Jilbabnya tampak serasi dengan pakaian seragamnya.
“Kasihan sekali ....” Jen bergumam sambil menggelengkan kepalanya. Ia mendekati celengannya. Sangat menyesal dulu tak ia pecahkan saja celengan itu untuk membantu Hana. Barangkali Hana stress akibat deraan kesulitan ekonomi yang begitu berat. Suami Hana seorang pedagang serabutan. Kadang berjualan pakaian, kadang madu, perabot atau apalah juga.
Jika saja Jen sudah mengajar lagi di sekolahan, tentu saja tidak masalah ia tiap hari dari Senin hingga Sabtu memakai blazer dari pagi hingga siang. Tak masalah juga ia mengetik menggunakan lap topnya di meja beranda. Tetapi Hana hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kadang untuk sekedar bisa makan pun ia harus meminjam uang ke sana-kemari.
Anak-anak Jen sendiri sudah besar. Satu kelas tiga SMP dan satu lagi kelas enam SD. Mereka sudah bersiap pagi ini hendak ke sekolah. Setiap pagi di hari sekolah bertiga dengan ayah mereka naik mobil sederhana. Berbeda dengan Hana. Anak Hana yang tertua baru berusia empat tahun dan yang kedua masih lima bulan. Jen kira semestinya Hana mau mengadu entah itu pada Bu RT atau Pak Lurah sekalian untuk mengatasi kesulitan ekonominya. Setidaknya, jika sang suami usahanya sedang sepi Hana tak perlu berjalan sejauh tiga kilometer untuk meminjam uang pada sahabatnya.
“Pa ...aku memecahkan celengan. Ada uang satu juta rupiah. Bolehkah aku pinjamkan pada Hana? Aku ....entahlah. Mungkin dia sudah mulai gila, tapi mungkin belum terlambat jika kta mau segera menolongnya. Memberinya perhatian,” ujar Jen. Suaminya bersiap menuju mobil mereka.
“Hana?” suaminya Jen mengerutkan kening. Membuat istrinya cemas. Jen takut suaminya menolak keinginannya menolong Hana.
“Ya. Hana. Tentu saja. Tetangga di depan rumah kita,” jawab Jen.
Mas Rio suaminya Jen tertawa. Ia mengambil ponselnya.
“Ini SMS dari Mbak Ratih, kakak sulungku. Kau ingat? Seminggu lalu Mbak Ratih mencari guru untuk mengajar di sekolahnya. Kemarin sepulang mengantar anak-anak kita dari olimpiade IPA, ia melihat Hana. Mereka berbincang sejenak,” ujar Mas Rio. Jen menahan nafas mendengarkan. Ia sangat penasaran.
“Mbak Ratih bilang, ia melihat sosok guru yang sangat baik sekaligus smart di diri Hana. Pakaian Hana rapih bicaranya juga tertata dengan baik. Dan yang istimewa, Hana sudah mencetak sendiri materi-materi pelajaran IPA,” jelas Mas Rio. Ia mengambil beberapa buah buku dari tasnya. Buku-buku dengan cover cantik. Semuanya tentang IPA.
Jen agak limbung. Tidak. Siapa yang salah? Ia yakin Hana mulai gila karena setiap pagi memakai blazer rapi laksana seorang guru yang siap mengajar, padahal ia tak mengajar di sekolah manapun.
Suara klakson mengejutkan Jen. Mbak Ratih. Kakak iparnya. Ia tampak menjemput Hana.
“Jen, kau mau ikut? Nanti siang kami ada rencana makan siang di restoran langganan kita, untuk menyambut bergabungnya Hana dengan yayasan kita,” tawar Mbak Ratih. Hana tersenyum sambil mengangguk. Di belakangnya, suaminya tampak menggendong kedua anak mereka.
Lalu hari bergulir. Hana dan suaminya bergantian mengasuh anak-anak mereka. Suatu pagi ketika Hana membawakan oleh-oleh satu dus bolu keju untuk Jen, perempuan itu baru sadar. Hana bukanlah gila, ia hanya menjemput keberuntungannya dengan persiapan. Sayang tak banyak perempuan seperti Hana. Kebanyakan lupa bahwa kesempatan bisa datang kapan saja

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »