Siang itu matahari sangat terik.
Iffa menghentikan langkah kakinya, ia menatap mesjid Istiqlal dengan gemuruh dalam hati.
Ia mengingat satu doa setahun yang lalu.
Iffa menghentikan langkah kakinya, ia menatap mesjid Istiqlal dengan gemuruh dalam hati.
Ia mengingat satu doa setahun yang lalu.
Rangkaian doa indah yang setiap kali ia mengingatnya, air mata itu menetes pilu.
Ia tengah menunggu seseorang untuk pulang dan menemuinya disini. Bersama harapan-harapan terindah yang pernah mereka cipta bersama.
Akan tetapi, Iffa pun sadar bahwa seseorang itu tidak akan mungkin lagi menemuinya.
Ia tengah menunggu seseorang untuk pulang dan menemuinya disini. Bersama harapan-harapan terindah yang pernah mereka cipta bersama.
Akan tetapi, Iffa pun sadar bahwa seseorang itu tidak akan mungkin lagi menemuinya.
***
Senja mulai menunjukan warna orange melukis langit. Mobil bis yang Iffa naiki remnya tiba-tiba blong. Kecelakaan maut pun tidak dapat dihindari.
Senja mulai menunjukan warna orange melukis langit. Mobil bis yang Iffa naiki remnya tiba-tiba blong. Kecelakaan maut pun tidak dapat dihindari.
Akibat
benturan hebat dikepalanya, Iffa mengalamai koma. Beberapa hari ia
dirawat, tak ada sedikit pun perubahan, bahkan tidak ada respon apa pun
darinya ketika kedua orang tuanya, saudara-saudaranya, sahabatnya,
menjenguk Iffa berbalut tangis.
Ketika Ayah Iffa keluar dari ruang Dokter, ia tampak sedih.
"Ayah, apa kata Dokter??"
Ibu Iffa menatap wajah suaminya dengan penuh harap.
Ayah Iffa hanya menghela nafas panjang.
Ibu Iffa menatap wajah suaminya dengan penuh harap.
Ayah Iffa hanya menghela nafas panjang.
"Jika
sampai besok pagi tidak ada perubahan, Ayah sudah putuskan untuk
mencabut semua peralatan yang menempel ditubuh Iffa." Ucap Bapak Ilham
dengan wajah datar menyembunyikan kesedihannya.
"Astagfirullah Ayah, detak jantung Iffa masih bedetak. Masih ada kemungkinan untuk Iffa bertahan."
Ibu Iffa mulai meneteskan air mata.
Ibu Iffa mulai meneteskan air mata.
"Iffa
masih bertahan sampai hari ini karena peralatan itu Bu, kasian tubuh
Iffa. Mungkin ini adalah saat Iffa untuk pergi meninggalkan kita."
Sahabat dan kakak-kakak Iffa tak kuasa menahan air matanya.
Sahabat dan kakak-kakak Iffa tak kuasa menahan air matanya.
Raya bergegas masuk ke ruang dimana Iffa berada. Ia menggenggam jemari sahabatnya erat.
"Iffa,
kita sudah bersahabat dari SMP. Sepuluh tahun lebih kita lewati
hari-hari bersama. Aku tidak siap untuk kehilangan kamu secepat ini.
Bertahanlah untuk persahabatan kita, ayo.... berjuang Iffa."
Raya tak kuasa menahan tangisnya. Diciumnya tangan lemah Iffa. Tiba-tiba ia teringat seseorang.
Raya tak kuasa menahan tangisnya. Diciumnya tangan lemah Iffa. Tiba-tiba ia teringat seseorang.
"Apa
kamu masih menunggunya? Apakah dia bisa memberikan kamu semangat untuk
bertahan? Jika benar begitu kasih aku isyarat Fa, aku akan mencari dia,
dan mempertemukannya denganmu."
Tiba-tiba setetes air mata terjatuh dari penjuru mata Iffa. Itu adalah pertama kalinya tubuh Iffa merespon suara disekitarnya.
Raya memanggil-manggil dokter berlari keluar kamar.
Seperti ada setitik cahaya terang mulai mengisi harapan orang-orang terdekat Iffa.
Ibu Iffa memeluk Raya hangat.
Raya memanggil-manggil dokter berlari keluar kamar.
Seperti ada setitik cahaya terang mulai mengisi harapan orang-orang terdekat Iffa.
Ibu Iffa memeluk Raya hangat.
"Aku akan mencari dia Fa...! Aku janji."
Bisik Raya dalam hati.
Bisik Raya dalam hati.
Esok hari, ada seseorang yang datang dengan wajah sedih.
Setelah sedikit memperkenalkan diri pada kedua orang tua Iffa, ia pun masuk keruangan.
Dilihatnya tubuh seorang gadis seperti tengah tertidur panjang.
Setelah sedikit memperkenalkan diri pada kedua orang tua Iffa, ia pun masuk keruangan.
Dilihatnya tubuh seorang gadis seperti tengah tertidur panjang.
Ia tidak berkata apa-apa. Hanya mata yang berkaca-kaca, mengisyaratkan ada rasa bersalah yang menghujam hatinya.
Rasa bersalah karena ia telah membuat hati seorang gadis setulus Iffa jatuh cinta, lalu meninggalkannya begitu saja.
Rasa bersalah karena ia telah membuat hati seorang gadis setulus Iffa jatuh cinta, lalu meninggalkannya begitu saja.
"Putri tidur, ayo bangun...! Mas sudah ada disini. Katanya mau melihat Mas dari dekat, ingin dengar suara Mas, ayo bangun."
Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Air mata dipenjuru mata Iffa mengisyaratkan bahwa ia mendengar suara Adwa disisinya.
Adwa mengapus air mata itu lembut dengan jemarinya.
Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Air mata dipenjuru mata Iffa mengisyaratkan bahwa ia mendengar suara Adwa disisinya.
Adwa mengapus air mata itu lembut dengan jemarinya.
"Mas
sesungguhnya tidak ingin kita bertemu dalam keadaan seperti ini,
sungguh...Mas sangat minta maaf telah berani mengajak kamu dalam
kehidupan Mas sejauh itu. Dan dengan jahatnya, Mas melukai kamu hingga
mendung itu tak pernah hilang dari setiap tulisan-tulisan kamu.
Mas bohong, jika berkata bahwa hati ini baik-baik saja. Seiring air mata yang kamu jatuhkan untuk Mas, disitu pun kesedihan mendalam yang kamu rasa, sampai pada hati ini. Tak henti kamu datang dalam mimpi-mimpi Mas dengan wajah penuh kesedihan, dan saat itu pun doa Mas untuk kebahagiaan kamu tak pernah terhenti."
Ucap Adwa dengan suara lirih.
Mas bohong, jika berkata bahwa hati ini baik-baik saja. Seiring air mata yang kamu jatuhkan untuk Mas, disitu pun kesedihan mendalam yang kamu rasa, sampai pada hati ini. Tak henti kamu datang dalam mimpi-mimpi Mas dengan wajah penuh kesedihan, dan saat itu pun doa Mas untuk kebahagiaan kamu tak pernah terhenti."
Ucap Adwa dengan suara lirih.
"Kau
tahu? Setelah keputusan yang kau ambil itu, Iffa sangat bersedih. Ia
memang selalu tertawa, bercanda, terlihat ceria seperti biasanya, namun
aku sangat tau dia seperti apa. Dia hanya sedang menutupi rasa sedihnya.
Ini adalah pertama kali aku melihat Iffa mencintai seseorang dengan begitu serius. Melihat jauh kedasar hatinya yang memang sudah terluka sekarang.
Dia sangat ceroboh! Jika dia sadar, aku akan cubit pipinya, karena sudah sangat bodoh mencintai orang seperti kamu. Mencintai seorang penulis yang wujudnya saja baru menampakan diri hari ini."
Ucap Raya, yang tanpa Adwa sadari ia sudah berdiri tepat disampingnya.
Adwa hanya tersenyum.
Kamar itu menjadi hening, hanya suara pendeteksi detak jantung yang terdengar memenuhi ruangan. Raya dan Adwa memandangi wajah Iffa yang berkali-kali meneteskan air mata.
Raya mengajak Adwa keluar dari ruangan untuk mengobrol ditaman rumah sakit.
Ini adalah pertama kali aku melihat Iffa mencintai seseorang dengan begitu serius. Melihat jauh kedasar hatinya yang memang sudah terluka sekarang.
Dia sangat ceroboh! Jika dia sadar, aku akan cubit pipinya, karena sudah sangat bodoh mencintai orang seperti kamu. Mencintai seorang penulis yang wujudnya saja baru menampakan diri hari ini."
Ucap Raya, yang tanpa Adwa sadari ia sudah berdiri tepat disampingnya.
Adwa hanya tersenyum.
Kamar itu menjadi hening, hanya suara pendeteksi detak jantung yang terdengar memenuhi ruangan. Raya dan Adwa memandangi wajah Iffa yang berkali-kali meneteskan air mata.
Raya mengajak Adwa keluar dari ruangan untuk mengobrol ditaman rumah sakit.
"Sudah sejak kapan kamu kembali dari Jepang?"
Ucap Raya membuka suara.
Ucap Raya membuka suara.
"Sudah sebulan yang lalu."
"Sudah sebulan yang lalu namun kamu tidak mencoba mencari dan menemui Iffa?"
Raya mengkerutkan kening.
Raya mengkerutkan kening.
"Jika
aku menemui Iffa dan terus-terusan memberikan kabar, bagaimana Iffa
bisa melupakan aku? Aku juga tidak ingin seperti ini tapi keadaannya
sulit."
"Keadaan apa maksud kamu? Karena sekarang kamu penulis terkenal?
Ia Iffa emang polos banget, bisa-bisanya dia mencintai seseorang yang belum pernah ia temui, dan begitu bodohnya ia percaya akan kata-katanya."
Raya berdiri dari tempat duduknya. Emosinya meluap. Dia sangat kesal, dan mulai men cap bahwa semua penulis hanya suka bermain-main dengan hati seseorang dengan kata-kata indahnya.
Ia Iffa emang polos banget, bisa-bisanya dia mencintai seseorang yang belum pernah ia temui, dan begitu bodohnya ia percaya akan kata-katanya."
Raya berdiri dari tempat duduknya. Emosinya meluap. Dia sangat kesal, dan mulai men cap bahwa semua penulis hanya suka bermain-main dengan hati seseorang dengan kata-kata indahnya.
"Bukan seperti itu, aku tulus mencintai Iffa. Tanpa sama sekali membohonginya, atau mempermainkannya."
"Lantas ini apa? Kamu melukainya juga kan? Bukankah kamu faham bahwa cinta itu menjaga, bukan melukai."
Ucap raya dengan suara lirih. Adwa hanya terdiam, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Sesungguhnya Raya tidak mengerti dengan Iffa atau pun Adwa, ada apa dengan mereka, masalah apa, dan apa pun itu Raya benar- benar tidak mengerti. Mata Adwa menyiratkan bahwa ada penyesalan mendalam dalam hatinya, terlihat bahwa ia pun masih mencintai sahabatnya, sebab setiap hari Adwa selalu datang menjenguk Iffa membawakan bunga sampai akhirnya Iffa bangun dari komanya. Namun dilain sisi ia pun menyakiti sahabatnya begitu saja, Raya benar-benar tidak mengerti.
Ucap raya dengan suara lirih. Adwa hanya terdiam, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Sesungguhnya Raya tidak mengerti dengan Iffa atau pun Adwa, ada apa dengan mereka, masalah apa, dan apa pun itu Raya benar- benar tidak mengerti. Mata Adwa menyiratkan bahwa ada penyesalan mendalam dalam hatinya, terlihat bahwa ia pun masih mencintai sahabatnya, sebab setiap hari Adwa selalu datang menjenguk Iffa membawakan bunga sampai akhirnya Iffa bangun dari komanya. Namun dilain sisi ia pun menyakiti sahabatnya begitu saja, Raya benar-benar tidak mengerti.
"Kamu masih belum mengingat Mas?"
Ucap Adwa pada Iffa.
Ucap Adwa pada Iffa.
"Tidak, namun aku merasa jika kita dekat. Walau sedikit pun aku tidak bisa mengingatnya."
"Iya, jangan kamu ingat-ingat. Biarkan saja semuanya terlupa."
"Kenapa seperti itu Mas? Apakah ada hal yang menyakitkan yang pernah terjadi antara kita?"
Iffa mengkerutkan keningnya, sambil memakan potongan buah apel yang disuapi Adwa.
Iffa mengkerutkan keningnya, sambil memakan potongan buah apel yang disuapi Adwa.
"Entahlah, Mas hanya tidak ingin kamu mengingat-ingat itu."
"Raya bilang, ini adalah pertemuan pertama kita. Apakah dulu kita hanya kenal lewat chat?"
Iffa terus menyelidik, dia hanya heran kenapa Adwa sama sekali tidak tercantum dalam ingatannya sedikit pun.
Iffa terus menyelidik, dia hanya heran kenapa Adwa sama sekali tidak tercantum dalam ingatannya sedikit pun.
"Raya cerita apa?"
Adwa mulai berfikir bahwa Raya telah menceritakan sesuatu pada Iffa.
Adwa mulai berfikir bahwa Raya telah menceritakan sesuatu pada Iffa.
"Tidak cerita apa-apa, dia hanya bilang ini adalah pertemuan pertama kita."
Adwa hanya tersenyum.
Adwa hanya tersenyum.
"Aku
hanya tidak mengerti, jika memang Mas begitu istimewa, hingga
kedatangan Mas membantu mempercepat bangunnya aku dari koma seperti yang
mereka bilang, lantas kenapa aku tidak bisa mengingat Mas ini siapa,
dan kita sedekat apa?"
"Mungkin sebelum kamu koma, kamu sedang berusaha keras melupakan Mas."
Iffa
menghentikan mengunyah apel dimulutnya. Ia terdiam, seperti ada rasa
sesak yang mencekik pernafasannya. Ia tidak faham dengan perasaan
seperti ini.
"Sudahlah....!
Yang penting kamu cepat sembuh. Jangan memikirkan sejauh apa kedekatan
kita, atau kenapa kamu bisa tidak mengingat Mas sama sekali."
Iffa hanya tersenyum.
Iffa hanya tersenyum.
Hampir
setiap hari Adwa menemani Iffa. Mengantarnya jalan-jalan ditaman rumah
sakit, mengawasinya minum obat, dan menungguinya sampai Iffa tertidur.
"Kamu ikut aku sekarang!"
Raya menarik tangan Adwa ketaman rumah sakit.
Raya menarik tangan Adwa ketaman rumah sakit.
"Maksudnya ini apa? Kamu sudah punya tunangan?"
"Iya.."
Jawab Adwa pelan.
Jawab Adwa pelan.
"Jahat
kamu ya! Terus maksud kamu apa? Kamu menemani Iffa setiap hari kalau
ujung-ujungnya kamu akan meninggalkan ia juga dan menyakiti hatinya
lagi!"
"Aku sudah bilang waktu itu, jika aku tidak bisa menemui Iffa."
"Ia tapi kamu tidak bilang jika kamu sudah punya tunangan!"
"Sebab jika aku dekat lagi dengannya, akan sulit untuku jauh."
Adwa meneteskan air matanya.
Adwa meneteskan air matanya.
"Kalau kamu bilang dari awal, aku tidak akan membiarkan kehadiran kamu sampai sejauh ini Wa!
Raya bangun dari kursinya, hendak meninggalkan Adwa.
"Tapi aku mencintainya Raya, masih sama persis seperti dulu, semua masih tetap sama."
"Cinta itu tidak melukai sejahat ini Wa!"
"Aku
dijodohkan dengan seseorang ketika aku masih duduk dibangku SMA. Aku
menganggapnya biasa saja tidak memikirkan hal itu, sebab dia pun masih
sekolah dan aku masih sibuk dengan kuliahku di Jepang. Hingga akhirnya
aku berkenalan dengan Iffa lwat chat, kita berteman sangat akrab. Dia
membuatku nyaman, hingga akhirnya aku sadar telah membawanya terlalau
jauh dalam hidupku.
Ia yang berprinsip untuk tidak pacaran, malah terganggu prinsipnya karena kehadiranku.
Yaaa.....aku menjauhkan ia dari-Nya.
Pertunanganku dengan Zahra pun tiba-tiba dibahas dengan serius.
Aku tidak bisa mengecewakan Papa dan Ibu.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Iffa. Sebab aku pun belum bisa memberikan kepastian apa-apa. Aku tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi dengan ketidak jelasan."
Ia yang berprinsip untuk tidak pacaran, malah terganggu prinsipnya karena kehadiranku.
Yaaa.....aku menjauhkan ia dari-Nya.
Pertunanganku dengan Zahra pun tiba-tiba dibahas dengan serius.
Aku tidak bisa mengecewakan Papa dan Ibu.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Iffa. Sebab aku pun belum bisa memberikan kepastian apa-apa. Aku tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi dengan ketidak jelasan."
"Dan
sekarang, kamu melakukan hal yang sama. Kamu menumbuhkan benih-benih
harapan itu dihati Iffa, meski ia tidak dapat mengingat apa-apa
tentangmu."
Adwa hanya menunduk.
Beberapa hari kemudian Adwa tidak datang menjenguk ke rumah sakit, ia menghilang begitu saja.
Beberapa hari kemudian Adwa tidak datang menjenguk ke rumah sakit, ia menghilang begitu saja.
"Ray, tumben yaa...Adwa tidak kesini sudah hampir seminggu? Apakah dia sibuk ya?"
Tangan Raya langsung berhenti mengupas apel.
Tangan Raya langsung berhenti mengupas apel.
"Oh ia mungkin!"
"Kok datar banget jawabnya ukhty yang satu ini? Tumben?"
"Emm.....dokter bilang keadaan kamu sudah semakin membaik, perkiraannya besok kamu sudah boleh pulang Ayy."
Raya mengalihkan pembicaraan.
Raya mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulullah...aku
juga sudah kangen banget sama rumah Ayy. Oh ia..adakah nomer atau apa
gitu buat menghubungi Adwa. Kok aku khawatir ya...? Malah kefikiran
dia.
Ray...coba ceritakan sedekat apa aku sama dia. Aku ingin dengar."
Ray...coba ceritakan sedekat apa aku sama dia. Aku ingin dengar."
Senyum manis Iffa terarah pada Raya.
"Ahh..sudah lah, gak penting! Nanti saja ya...kalau kamu sudah benar-benar sembuh."
Iffa hanya cemberut mendengar jawaban sahabatnya.
"Ya sudah....sini kasih tau password media sosial aku jelek...kamu pasti punya, gak mungkin nggk!"
Iffa hanya cemberut mendengar jawaban sahabatnya.
"Ya sudah....sini kasih tau password media sosial aku jelek...kamu pasti punya, gak mungkin nggk!"
"Ahhhh...nggak...nggak...!
Jangan macam-macam, fokus sama kesembuhan kamu, jangan sampai sahabat
kamu yang satu ini manggil dokter buat nyuntik kamu lagi!"
***
Pagi itu Iffa sudah diperbolehkan pulang. Berkali-kali ia menatap kearah pintu, berharap Adwa pun ikut menjemputnya pulang.
Tapi ia tidak datang.
Iffa bertanya-tanya dalam hatinya seperti tidak mengerti.
Pagi itu Iffa sudah diperbolehkan pulang. Berkali-kali ia menatap kearah pintu, berharap Adwa pun ikut menjemputnya pulang.
Tapi ia tidak datang.
Iffa bertanya-tanya dalam hatinya seperti tidak mengerti.
"Bu...Ayah sama Mas Irhan mana? Kok tidak ikut menjemput?"
"Kan ada Raya, haiiii ukhty yang cantik jelita, Assalamu'alaikum Bu..."
Tiba-tiba Raya muncul dengan senyum bahagianya, ia mencium tangan Ibunda Iffa.
Tiba-tiba Raya muncul dengan senyum bahagianya, ia mencium tangan Ibunda Iffa.
"Wa'alaikum salam..."
Mereka menjawab hampir bersamaan.
Mereka menjawab hampir bersamaan.
"Bapak sedang ada tamu, Fa!"
Ibu Iffa masih sibuk membereskan barang-barang.
Ibu Iffa masih sibuk membereskan barang-barang.
"Tamu? Siapa Bu? Sepenting itukah tamunya? Sampai-sampai Bapak tidak menjemput Iffa pulang."
"Itu tamu special..!"
Jawab Ibu Iffa dengan senyum rahasia.
Jawab Ibu Iffa dengan senyum rahasia.
Sesampainya dirumah, Iffa kaget. Tatkala melihat Adwa dan kedua orang tuanya duduk menunggunya diruang tamu.
Adwa meminta izin pada Ayah Iffa untuk mengkhitbahnya.
Meski pun Iffa lupa sedekat apa mereka dulu, ia merasa sangat bahagia. Sungguh itu terpancar dari binar matanya yang mulai bercahaya lagi. Mata indah yang meneteskan air mata haru, air mata yang mewakili kebahgiaan yang tak lagi dapat diwakilkan dengn kata-kata selain kata syukur.
Adwa meminta izin pada Ayah Iffa untuk mengkhitbahnya.
Meski pun Iffa lupa sedekat apa mereka dulu, ia merasa sangat bahagia. Sungguh itu terpancar dari binar matanya yang mulai bercahaya lagi. Mata indah yang meneteskan air mata haru, air mata yang mewakili kebahgiaan yang tak lagi dapat diwakilkan dengn kata-kata selain kata syukur.
Adwa
sudah menjelaskan pada keluarganya juga keluarga tunangannya tentang
perasan dia sesungguhnya, tentang seorang gadis yang ia cintai setahun
yang lalu. Sungguh diluar dugaan bahwa kedua orang tuanya memberi restu,
bahkan membantunya memberikan penjelasan agar tidak begitu menyinggung
perasaan keluarga tunangannya, yang ternyata kedua orang tua mantan
calon tunagannya itu adalah sahabat kedua orang tuanya.
Tak lama setelah acara khitbah itu, mereka berdua resmi menikah, hidup bahagia dan dikaruniai anak kembar, laki-laki dan perempuan.
Tak lama setelah acara khitbah itu, mereka berdua resmi menikah, hidup bahagia dan dikaruniai anak kembar, laki-laki dan perempuan.
Bekasi, 20 Desember 2015
Yatty Putri