SUCI
Menyaksikan bayi menyusu pada ibunya, merupakan peristiwa paling ajaib ketika perenungan akan jalan kehidupan menyertai setiap insan.
Betapa tidak, bayi masih polos, suci dan amat cuek dengan kehidupan dunia. Dari sudut keruhanian, merupakan makhluk yang amat dekat dengan Ilahi. Sebab, jika diyakini bahwa Ilahi itu adalah suci, maka yang suci pulalah paling mungkin dekat denganNya.
Bayi begitu dekat dengan Yang Suci, karena bayi memang masih suci. Ternyata, kebutuhannya amat sangat terbatas. Bayi hanya butuh susu untuk menyambung hidupnya. Makin sedikit kebutuhan, makin dekat pula pada kesucian.
Perjalanan usia berlanjut, hingga usia lanjut, pun selayaknya pula tiba pada kebutuhan yang sedikit. Agar saat usia lanjut, diri makin dekat pula pada kesucian.
Sering dipahami, usia empat puluh adalah awal kilas balik kehidupan dimulai. Perjalanan baru kehidupan mulai diretas kembali. Life begin at forty.
Makin lanjut usia, tubuh makin sedikit kebutuhannya. Banyak anggota tubuh minta pensiun. Gigi mulai ompong, mata semakin rabun, telinga rada tuli, kaki dan lutut sudah pegal, serta yang lainnya pun pamit dari fungsinya.
Penanda utama dari semua itu, ketika tubuh mulai menolak macam ragam makanan. Tubuh makin selektif menerima makanan. Sebab, kalau dipaksakan maka anggota-anggota tubuh mulai protes dengan mengajukan rasa sakit sebagai bentuk nyata dari pembangkangannya.
Selaiknya, makin berada di usia lanjut, insan yang lanjut usia itu makin sedikit kebutuhannya. Berarti, jalan keruhanian makin dekat dengan kesucian, seperti layaknya saat masih pertama kali hadir di bumi ini, menjadi bayi.
Menjadi benarlah sebuah pelajaran hidup dari kehidupan, bayi dan insan usia lanjut, amat sedikit kebutuhannya. Sebab, alam memberikan isyaratnya, agar membatasi kebutuhan, supaya makin dekat pada kesucian, guna mendekati Yang Suci